Pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Karijawa, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, tahun anggaran 2024, terus mendapat sorotan publik.
Selain dirobohkannya bangunan SDN 02 Dompu yang dianggap masih layak dan kokoh untuk kegiatan belajar dan mengajar, relokasi sekolah pun menjadi buah bibir di masyarakat.
Bukan itu saja, biaya pembangunan terbilang fantastis itu tak luput dari perbincangan karena dianggap tidak wajar alias janggal, mengingat proyek RTH menyedot anggaran sebesar Rp2.030.775.160, berasal dari dana APBD Dompu, tahun anggaran 2024.
Duit miliaran yang digelontorkan Pemkab Dompu melalui Dinas Lingkungan Hidup hanya untuk pembuatan menara beserta aksesorisnya dan pembuatan lantai atau rabat halaman di depan menara, yang ukurannya tidak sebanding dengan luas areal RTH.
Selanjutnya, proyek ini dikerjakan oleh CV. Duta Cevate. Perusahaan jauh di seberang, beralamat di Desa Perampuan, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat, NTB.
Keberadaan RTH Karijawa ditengah kota tersebut masih dipertanyakan asas manfaatnya oleh masyarakat. Bahkan komentar bernada miring dialamatkan.
Sebuah akun facebook dengan nama “Muhammad Efhendi” dalam salah satu bagian unggahannya pada Jum’at (24/01/2025), menulis “Asas manfaatnya ini apa?”.
Di laman facebooknya itu, dia juga mempetanyakan biaya pembangunan RTH. “Sudah berapa anggaran negara pembangunan ini.?” pada tulisan berikutnya.
Topik starter warganet di atas juga melampirkan foto papan informasi proyek dan foto menara di RTH Karijawa.
Postingan Muhammad Efhendi mendapat komentar beragam dari netizen.
Misalnya “Acha Dade”, akun ini mengulik penampakan taman (RTH, red) yang biayanya fantastis. “Sabua akempa penampakannya taman dgn angka fantastik ke ro? tulisnya menggunakan bahasa Dompu.
Sedangkan warganet lainnya “Armintati Sri” membubuhkan komentar bernada keheranan, “Ya allah 2M” diikuti emoticon menangis.
Yang ikut berkomentar juga disitu akun “Dhedy Al-Amin”. Dia sangsi anggaran RTH dengan hasil proyek yang ada. Menurutnya, dari pembangunan RTH yang sudah jadi, paling-paling uang yang habis terpakai kisaran 200 juta rupiah.
“Di hitung2 dari yg sudah jadi paling2 kisaran 200jt yg habis terpakai”.
Kalau pegiat media sosial di atas menilik anggaran dan wujud proyek RTH, akun “Dae Iman” menyoal asal perusahaan penyedia.
“Dou be kombi liri na ma ntau perusahan ke, iha poda di rawi ake ne”.
Cibiran masyarakat yang mereka lampiaskan di facebook adalah wajar, karena pembiayaan proyek RTH Karijawa dari anggaran negara. Dan salah satu sumber pendapatan negara berasal dari pungutan pajak dari rakyat. Sehingga, jangan sampai proyek RTH Karijawa tidak ada manfaat apalagi melanggar ketentuan.