Piala dunia 2026 akan usai, tinggal hitungan hari. Empat tim (raksasa) mendapat tiket ke babak semi final.
Prancis, Argentina, Spanyol, dan Inggris sedang menunggu waktu untuk turun lapangan.
Berdasarkan skema federasi sepak bola dunia-FIFA, Argentina versus Inggris, berlangsung pada Kamis, 16 Juli 2026 jam 2 dini hari WIB. Sementara Prancis berhadapan dengan Spanyol, Rabu, 15 Juli 2026 pukul 02.00 WIB.
Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Amerika Serikat akan menjadi saksi sejarah laga paling ganas Argentina kontra Inggris. Pertemuan legendaris kembali terjadi setelah peristiwa kontroversi 40 tahun silam.
Duel maut keduanya bukan sekedar adu taktik, strategi serta keahlian menggiring dan menggelindingkan bola atau perang psikologis mengolah si kulit bundar, akan tetapi memutar kembali kaset amarah.
Piring hitam sejarah akan terus berputar dan berulang sepanjang manusia ada.
Begitulah antara The Three Lions dengan tim Tango. Inggris tidak akan pernah menghapus catatan pertempuran Falkland atau buku yang menceritakan konfrontasi Malvinas dalam sejarah Argentina, yang terjadi pada tahun 1982. Mereka musuh bebuyutan, seteru abadi dalam piala dunia. Perang sengit antara penghuni benua Eropa dan benua Amerika.
Cerita konflik bersenjata memperebutkan kepulauan di Samudra Atlantik Selatan itu terus bersambung dan mempertajam rivalitas mereka sampai di atas rumput hijau pada piala dunia 1986.
Nahas bagi Inggris saat itu bertemu Argentina dalam formasi 3-5-2 di babak perempat final yang digelar 22 Juni 1986 di Estadio Azteca, Meksiko. Makin celakanya lagi, bola dari the legend Diego Armando Maradona bersarang ke gawang Inggris. Perisai Inggris, Peter Shilton jebol.
Gol yang menggemparkan dunia sekaligus mengubur hidup-hidup mimpi besar Inggris menjadi juara.
Jika saat itu sudah ada teknologi Video Assistant Referee (VAR), maka gol Maradona batal. Bukan perkara sundulan yang berakibat gol, tetapi gol yang tercipta berasal dari tandukan kilat tangan El Pibe de Oro.
Anehnya, tak satupun wasit melihatnya karena kecepatan tangan Maradona. Gaib!. Tapi pemain dan suporter Inggris raya di tribun menyaksikan gol kontroversial sepanjang sejarah sepak bola itu adalah fakta kecerdikan tangan kiri sang striker melesakkan bola. Gol itupun dimuseumkan menjadi Gol tangan Tuhan.
Publik Inggris murka. Mereka sangat marah kepada Diego pada waktu itu. Perasaan berkecamuk, merasa dilecehkan.
Laga panas itu terjadi pada momentum yang salah. Salahnya karena berlangsung hanya empat tahun setelah kedua negara terlibat dalam Perang Falkland (Malvinas) pada tahun 1982, sehingga pertandingan sarat emosi.
Kembali ke panggung akbar sepak bola dunia, cerita yang menyertainya bernada memojokkan FIFA, Messi dan Argentina.
Selama debut piala dunia 2026, miliaran mata menyorot tajam ke La Albiceleste, sang juara 2022 silam.
Di lini masa facebook misalnya, La Pulga kapten tim asuhan Lionel Scaloni disebut anak emas FIFA. Apalagi kalau Messi dibanding bandingkan dengan pemain Portugal Ronaldo, hujatannya lebih sadis.
Lionel Andrés Messi Cuccitini dan pasukannya dituding mendapat perlakuan istimewa dari FIFA.
Langkah Argentina tak bisa dibendung, kemenangan yang dipetik disetiap fase tidak pernah diperbincangkan karena faktor kualitas tim pelatih dan kemampuan para pemain.
“Gol pemain Argentina terkhusus Messi berkat tangan FIFA”.
Nasib malang menimpa FIFA. FIFA ibarat teh botol sosro. “Apapun makanannya minumnya teh botol sosro”. Jadi, keberhasilan apapun yang diraih Messi dan Argentina selama piala dunia semuanya atas andil FIFA. Sebaliknya, apapun kegagalan dan kesialan yang dialami oleh negara selain Argentina dan pemain selain Messi, itu disebabkan oleh FIFA. FIFA menghadapi kutukan.
“Messi dan Argentina tidak pernah salah dimata FIFA”.
Padahal jika dilihat pejabat teras FIFA, hanya satu dari Argentina yaitu Claudio Tapia, anggota dewan FIFA. Tidak punya tugas dan kewenangan super istimewa dibandingkan si plontos Gianni Infantino, Presiden FIFA.
Memang FIFA punya misi bisnis dibalik menjaga eksistensi ekosistem olahraga sepak bola dunia. Namun bukan berarti FIFA adalah segalanya untuk Leo dan Argentina.
Diakui atau tidak, saat bercerita tentang sepak bola, ingatan dan pandangan pasti tertuju ke Maradona, gol tangan Tuhan yang masih diperdebatkan, dan Messi.
Maradona dan Messi ikon sepak bola dunia. Ini bukan akibat kekuatan sihir tarian tanggo melainkan kejeniusan. Bahkan king Messi terus menulis ulang sejarah dengan kelincahan dan cara yang sulit dipercaya dan mustahil dihentikan.