Kolom & Opini

Fenomena Media Sosial dan Standar Kecantikan

Avatar photo
×

Fenomena Media Sosial dan Standar Kecantikan

Sebarkan artikel ini
Img 20250108 Wa0003
📷 Karyn Rahman. (Win).

Oleh: Karyn Rahman*

 

 

Di era digital ini, media sosial telah menjadi cerminan budaya dan standar kecantikan. Tak bisa dipungkiri, platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook membombardir kita dengan gambaran-gambaran tentang “kecantikan sempurna”. Setiap hari, kita melihat wajah-wajah yang mulus, tubuh yang ideal, dan gaya hidup yang glamor.

Sebagai wanita, saya tidak bisa menghindari fenomena kecantikan ini. Sama seperti wanita lain, saya juga ingin terlihat cantik dan menarik meski usia terus bertambah. Tak jarang, dunia virtual ini menyajikan persaingan ketat, bukan hanya di kalangan wanita tetapi juga dari segala gender. Produk perawatan kulit pun menjamur seperti jamur di musim hujan, dari yang berlabel hingga yang tidak berlabel, dari yang memiliki perizinan hingga yang tidak memiliki perizinan alias abal-abal.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bekerja keras untuk memastikan produk-produk ini memenuhi standar keamanan. Namun, banyak produk yang beredar di pasaran tanpa izin resmi, mengabaikan proses dan prosedur yang telah ditetapkan. Para penjual skincare ketar-ketir ketika beberapa dokter mulai mengusik produk mereka. Bahkan influencer media sosial yang juga seorang dokter kecantikan tak luput dari review produk dan keakuratan produk yang mereka jual.

Sebagai makhluk yang tercantik di jagat, yaitu wanita, saya ikut memantau dan memahami fenomena kecantikan lewat skincare ini. Bahayanya produk abal-abal dengan bahan dasar kimia berbahaya seperti hidrokuinon tidak bisa diabaikan. Hidrokuinon adalah agen pemutih kulit yang dapat menyebabkan efek samping serius, termasuk iritasi kulit dan okronosis—kondisi yang menyebabkan penggelapan dan penebalan kulit. Penggunaan jangka panjang juga dapat merusak organ dalam melalui penyerapan kulit.

Baca Juga  Ketua MK Pengecut, Bersandiwara Soal Batas Usia Capres-Cawapres
Img 20250108 Wa0001
📷 Ilustrasi seorang wanita saat disuntik di bagian wajah agar terlihat tampil memesona. (Ist).

Selain skincare, ada juga yang memilih jalur yang lebih ekstrem seperti perawatan suntik dan operasi. Risiko tinggi mengintai, termasuk kemungkinan kematian dan kegagalan hasil yang tidak sesuai harapan. Ini terbukti tidak hanya pada masyarakat biasa tetapi juga selebriti dalam dan luar negeri.

Jadi, apa sebenarnya yang mendefinisikan kecantikan fisik? Ketika berbicara tentang standar kecantikan fisik, banyak orang yang menjalani operasi berulang kali sering kali tetap tidak puas dengan hasilnya. Mereka terus mencari perubahan dan tidak pernah merasa puas setiap kali melihat diri mereka di cermin, hingga hasil yang mereka peroleh tampak tidak karuan. Hal ini menyoroti betapa pentingnya menerima diri sendiri dan memahami bahwa kecantikan sejati tidak hanya terletak pada penampilan luar tetapi juga dari dalam diri kita. Obsesi untuk mencapai “kesempurnaan” sering kali berujung pada ketidakpuasan yang terus menerus. Mereka yang selalu merasa kurang, meskipun sudah melakukan berbagai prosedur kecantikan, menunjukkan bahwa standar kecantikan yang tidak realistis dapat merusak.

Film terbaru The Substance yang dibintangi Demi Moore, menggambarkan esensi dari tekanan sosial ini. Disutradarai oleh Coralie Fargeat, film ini menggabungkan horor dan komedi gelap, menceritakan seorang bintang yang takut kehilangan karir dan kecantikannya seiring bertambahnya usia. Tindakan nekatnya akhirnya membawa penyesalan besar, menggali obsesi masyarakat terhadap kecantikan dan penuaan.

Penampilan gemilang Demi Moore mengantar diri nya dalam film ini meraih Golden Globes Award! Selamat buat dia. Dalam pidato penerimaan award nya, dia berbicara langsung kepada para wanita dengan pesan yang mengesankan:

Baca Juga  Jokowi Keluhkan Hilangnya Kesantunan, Padahal Dialah Penyebabnya

“In those moments when we don’t think we’re smart enough, or pretty enough, or successful enough, or basically just not enough, but you can know the value of your worth if you just put the measure stick” – Demi Moore”.

Img 20250108 Wa0002
📷 Ilustraai obat-obatan kecantikan palsu yang sangat berbahaya bagi kesehatan kaum wanita. Baarang palsu tersebut kerap di rajia oleh BPOM. (Ist).

Dalam saat-saat ketika kita merasa tidak cukup pintar, atau cukup cantik, atau cukup sukses, atau pada dasarnya merasa tidak cukup, tetapi Anda dapat mengetahui nilai dari diri Anda jika Anda hanya menggunakan ukuran yang tepat.

Pesan ini adalah tentang belas kasihan pada diri sendiri, ketahanan, dan merangkul keunikan individu kita. Nilai diri harus berasal dari dalam, dan kita harus menghargai diri sendiri apa adanya. Jika kita memakai ukuran standard orang lain, maka kita tak akan pernah merasa cukup terhadap diri kita.

Untuk menghadapi tekanan dari media sosial dan standar kecantikan yang tidak realistis, penting bagi wanita untuk menetapkan batasan waktu di media sosial dan tidak membandingkan diri dengan gambar-gambar yang diedit. Selalu pastikan produk skincare memiliki izin BPOM untuk keamanan dan pelajari bahan-bahan yang digunakan, hindari produk yang berbahaya seperti hidrokuinon.

Utamakan kesehatan dengan memilih perawatan alami dan konsultasi dengan ahli sebelum mencoba perawatan baru. Fokus pada nilai diri dan keunikan, serta bangun rasa percaya diri dari dalam. Lingkungan yang mendukung dapat membantu meningkatkan kesejahteraan dan rasa percaya diri. Dengan perawatan diri yang tepat, kita bisa lebih menghargai diri sendiri dan menghadapi tekanan kecantikan dengan lebih baik.

 

*Pemerhati perempuan dan edukator