Kolom & Opini

Pendidikan Holistik: Mengatasi Tantangan di Daerah dan Masyarakat

Avatar photo
×

Pendidikan Holistik: Mengatasi Tantangan di Daerah dan Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Img 20250110 Wa0002
📷 Para guru SMPN 2 Labuapi, Lombok Barat - NTB. (Kr).

Oleh: Karyn Rahman*

 

Pendidikan adalah fondasi utama bagi perkembangan individu dan masyarakat. Namun, pendidikan tidak hanya sebatas pengetahuan akademis, tetapi mencakup kesadaran, kedisiplinan, dan perkembangan karakter yang menyeluruh. Pendekatan pendidikan holistik menjadi semakin penting, terutama di daerah-daerah dengan tantangan unik.

 

Kesadaran dan Kedisiplinan: Pilar Utama Pendidikan

Dalam pendidikan holistik, kesadaran mengacu pada pemahaman pelajar akan pentingnya belajar dan bagaimana pengetahuan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan pendidikan yang memperhatikan perkembangan totalitas individu, mencakup aspek intelektual, emosional, fisik, sosial, kreatif, dan spiritual.

Pelajar yang memiliki kesadaran tinggi cenderung lebih termotivasi untuk belajar dan mengembangkan diri. Kedisiplinan adalah kunci untuk mengarahkan energi dan waktu secara efektif. Tanpa kedisiplinan, potensi besar dari pelajar mungkin tidak akan terwujud secara optimal.

 

Peran Pendidik: Lebih dari Sekedar Mengajar

Para pendidik memiliki peran vital dalam membentuk kesadaran dan kedisiplinan pelajar. Pendidik harus mampu menjadi teladan dalam hal sikap, etika, dan kebiasaan belajar. Mereka harus menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan menginspirasi, memberikan arahan dan motivasi yang tepat, serta mengembangkan pendekatan yang personal dan empati terhadap pelajar.

Karakter dan sikap anak-anak di sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan rumah dan sekitarnya. Sebagai pendidik, guru harus peka terhadap perilaku dan karakter anak didik. Menghadapi karakter anak-anak yang beragam membutuhkan tingkat kesabaran yang tinggi. Ada murid yang kritis dan cerdas, yang banyak bertanya karena benar-benar penasaran atau untuk menguji seberapa jauh guru menguasai materi tersebut. Dalam hal ini, kesabaran adalah kunci utama. Namun, penting bagi guru untuk tetap memegang kendali kelas dan fokus pada topik pelajaran. Jika diperlukan, guru harus mengingatkan murid bahwa pertanyaan mereka akan dibahas pada sesi berikutnya untuk menjaga kelas tetap berada pada jalur yang benar.

 

Mengelola Pertanyaan di Luar Topik

Terkadang, dalam rasa penasaran mereka, murid-murid memberikan pertanyaan yang melenceng dari topik atau tema yang sedang dibahas. Meskipun hal ini bisa sedikit menjengkelkan, sebagai pendidik, kita harus memahami bahwa ini mencerminkan rasa percaya yang besar dari murid kepada guru. Murid merasa bahwa guru adalah sumber pengetahuan yang tahu segalanya. Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk tetap sabar, memastikan murid merasakan apresiasi atas rasa ingin tahu mereka, sambil tetap menjaga fokus pada materi yang sedang diajarkan.

 

Keterlibatan Orang Tua: Dukungan yang Tak Tergantikan

Peran orang tua dalam pendidikan anak-anak mereka tidak boleh diabaikan. Keterlibatan aktif orang tua dalam proses pendidikan anak-anaknya sangat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar. Orang tua harus menyediakan lingkungan rumah yang kondusif untuk belajar, memberikan dukungan moral, dan memantau perkembangan akademis serta karakter anak-anak mereka.

Baca Juga  Dompu Emas, 14 Februari 2024 Jika Disetujui Semua Masyarakat

 

Mengatasi Kesalahpahaman tentang Sistem Pendidikan

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah anggapan bahwa tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya berada di tangan sekolah dan guru. Padahal, ketika guru mencoba mendisiplinkan anak-anak mereka, seringkali muncul konflik yang bisa berujung pada jalur hukum. Ini bukanlah dukungan terhadap kekerasan, tetapi perlu diingat bahwa guru juga manusia yang memiliki batas kesabaran.

Untuk menghindari konflik antara sekolah, guru, murid, dan orang tua, sangat penting untuk memiliki komunikasi yang baik. Orang tua memang menyerahkan anak-anak mereka untuk dididik di sekolah, namun mereka juga harus memantau dan mengenali karakter anak-anak mereka. Pendidikan dasar sebenarnya dimulai dari lingkungan rumah.

 

Realitas Pendidikan di Daerah

Namun demikian, kenyataan di lapangan sering kali tidak semulus ekspektasi. Contoh nyata dapat dilihat di salah satu sekolah negeri di Lombok Barat, SMPN 2 Labuapi. Meski fasilitas sekolah cukup memenuhi standar dan kualitas guru sebagian besar telah memiliki tingkat pendidikan master, tantangan besar tetap ada.

Img 20250110 Wa0000
📷 Karyn Rahman

Banyak siswa yang berasal dari kampung-kampung sekitar yang masih minim dalam hal kesadaran dan kedisiplinan. Sistem pendidikan yang mengharuskan siswa untuk lulus dan naik kelas tanpa memperhatikan penguasaan materi secara memadai membuat situasi semakin kompleks. Contohnya, beberapa siswa yang masih membaca terbata-bata meskipun sudah berada di tingkat SMP. Tantangan semakin besar di mata pelajaran seperti Bahasa Inggris, di mana kemampuan dasar membaca sangat diperlukan.

Menurut wali kelas, Sari Wijayanti, M.Pd, yang mengamati situasi ini, sering kali diperlukan usaha ekstra untuk menggiring siswa masuk kelas. Tidak jarang siswa berlarian dan bersembunyi meski kelas sudah dimulai. Hal ini menunjukkan minimnya disiplin dan kesadaran sebagian siswa, meskipun tidak semua.

Kejadian seperti yang dialami oleh SMPN 2 Labuapi, Lombok Barat juga terjadi di sekolah-sekolah lain yang berada di perkampungan pelosok. Di sini, tantangan bukan hanya pada fasilitas fisik atau kualitas guru, tetapi juga pada budaya pendidikan di masyarakat sekitar. Minimnya kesadaran akan pentingnya pendidikan dan kurangnya disiplin siswa menjadi hambatan utama dalam proses belajar mengajar.

Lebih lanjut, sistem pendidikan yang terlalu fokus pada angka kelulusan tanpa memperhatikan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran hanya akan memperburuk keadaan. Perlu ada pendekatan yang lebih holistik, yang tidak hanya mengejar angka kelulusan, tetapi juga memastikan setiap siswa benar-benar memahami dan mampu menerapkan pengetahuan yang mereka pelajari.

Baca Juga  Kalau Demokrat Untuk Rakyat, Pasti Tetap Bersama Anies

Guru-guru seperti Sari Wijayanti, M.Pd, memainkan peran penting dalam menghadapi tantangan ini. Dengan dedikasi dan usaha ekstra, mereka berupaya untuk tidak hanya mengajar tetapi juga membimbing siswa agar lebih disiplin dan menyadari pentingnya pendidikan. Meski tidak mudah, langkah-langkah kecil ini diharapkan dapat membawa perubahan positif bagi pendidikan di daerah.

 

Kondisi Lingkungan Rumah: Pengaruh yang Signifikan

Karakter dan sikap siswa di sekolah juga sangat dipengaruhi oleh situasi di rumah mereka. Banyak siswa yang berasal dari keluarga yang menghadapi banyak tantangan, seperti orang tua yang lebih fokus mencari nafkah atau melanjutkan hidup mereka. Beberapa siswa dibesarkan oleh nenek atau kerabat karena orang tua mereka bercerai atau merantau untuk mencari pekerjaan.

Masih menurut wali kelas, Sari Wijayanti, M.Pd, yang merupakan salah satu guru sangat aktif dan begitu dekat serta perhatian terhadap keadaan para muridnya, dia melakukan pendekatan secara langsung bahkan tak jarang datang mengunjungi rumah muridmuridnya yang menurutnya memerlukan sedikit perhatian. Situasi ini menjadikan dukungan dari orang tua sulit didapatkan. Anak-anak ini sering kekurangan perhatian dan bimbingan yang memadai di rumah, yang berdampak pada perilaku dan kesadaran mereka di sekolah. Mereka mungkin tidak mendapatkan lingkungan belajar yang kondusif dan kurang pengawasan dalam hal perkembangan akademis dan karakter mereka.

 

Solusi untuk Situasi yang Menantang

Untuk menghadapi tantangan seperti ini, kerja sama yang erat antara sekolah dan komunitas sangat diperlukan. Sekolah perlu mengimplementasikan program yang mendukung siswa dari latar belakang yang kurang menguntungkan, seperti program bimbingan dan konseling yang dapat membantu siswa dengan masalah pribadi dan keluarga. Memperkuat hubungan dengan orang tua, meskipun sulit, juga sangat penting. Ini bisa dilakukan dengan mengadakan pertemuan rutin dan melibatkan orang tua dalam kegiatan sekolah untuk membangun rasa tanggung jawab bersama.

Pendidik juga harus dilatih untuk menangani situasi ini dengan empati dan pengertian. Pendekatan yang fleksibel dan ramah terhadap siswa, sambil tetap tegas dalam menerapkan disiplin, dapat membantu membangun lingkungan belajar yang positif.

 

Kesimpulan

Pendidikan holistik adalah pendekatan yang komprehensif dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan. Kesadaran dan kedisiplinan adalah fondasi yang harus dibangun dalam diri pelajar, dengan dukungan penuh dari pendidik, orang tua, dan komunitas.

Dengan kolaborasi yang baik dari semua pihak, kita bisa menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter kuat dan siap menghadapi tantangan masa depan.

 

*Pemerhati Perempuan dan Edukator