Bola

Kutukan Malvinas di Subuh Jahanam

Avatar photo
×

Kutukan Malvinas di Subuh Jahanam

Sebarkan artikel ini
📷 Pemain Argentina Giovani Lo Celso dan Nicolas Otamendi membentangkan spanduk politik bertuliskan "Las Malvinas Son Argentinas". (VIVANews).

Pertandingan semifinal Argentina melawan Inggris, Rabu, 15 Juli 2026 pukul 15.00 waktu Atlanta, Amerika Serikat berlangsung sengit.

La Albicaleste mempermalukan The Three Lions dengan skor 2-1 dihadapan 68.239 penonton atau sekitar 6 juta yang menyaksikan seluruh dunia di Mercedes-Benz stadium, Atlanta.

Kutukan Malvinas berlanjut setelah 40 tahun gol tangan Tuhan Diego Maradona di piala dunia 1986.

Dalam waktu singkat, dua kali gawang Inggris bobol pada menit akhir pertandingan. Kiper Jordan Pickford mati kutu menghadapi tendangan Enzo Fernandez dan heading Lauruto Martinez. Dua gol bersarang tercipta berkat umpan cerdas sang kapten, Lionel Messi.

Kegagalan Inggris kemarin subuh waktu Indonesia menegaskan reputasi skuad Argentina sebagai juara sekaligus memvalidasi sejarah panas kekalahan Inggris pada 1986 di Estadio Azteca, Meksiko.

La Pulga membungkam kesombongan Jude Bellingham dan membuatnya menangis. Timnas Inggris menyerah dan harus tunduk dibantai skuad Argentina.

Cita-cita tim asuhan Thomas Tuchel harus kandas. Inggris kembali gagal membawa pulang trofi usai Lionel Scaloni mengubur dalam-dalam mimpi mereka ke laga pamungkas berhadapan dengan Spanyol.

Baca Juga  Perang dan gol tangan FIFA

Tidak ada pertandingan piala dunia yang lebih panas, sengit, penuh ketegangan, dan sarat emosional selain Argentina kontra Inggris.

Rivalitas keduanya berakar dari luka sejarah perang Malvinas 1982. Inilah yang menjadikan keduanya musuh abadi di lapangan hijau maupun di luar lapangan.

📷 La Pulga (King Messi) mengenakan Jersey away warna biru tua saat melawan Inggris kemarin. (VIVANews).

Setelah perang Malvinas, pertemuan antara Argentina melawan Inggris di beberapa fase sesungguhnya bukan turnamen biasa melainkan perang.

Konflik bersenjata selama 74 hari itu terjadi pada tanggal 2 April hingga 14 Juni 1982. Ini soal geopolitik, dipicu sengketa kedaulatan atas Kepulauan Malvinas di Samudra Atlantik Selatan.

Saat Argentina bertanding dengan Inggris di piala dunia, maka semangat negara asal tarian Tango itu adalah nasionalisme. Amarah kedaulatan menghabisi Inggris.

Kemarin setelah laga dramatis selesai, terjadi aksi bentang spanduk. Para pemain Argentina seperti Giovani Lo Celso dan Nicolas Otamendi membentangkan spanduk di dalam lapangan bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” (Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina).

Baca Juga  Perang dan gol tangan FIFA

Spirit rakyat Argentina mengklaim kepulauan Malvinas adalah wilayahnya akan terus hidup, dan membara ketika berhadapan dengan Inggris.

Bahkan sebelum pertandingan, Argentina secara resmi meminta izin kepada FIFA untuk memakai Jersey away warna biru tua. FIFA pun menyetujuinya.

Alih-alih seragam warna biru tua sebagai seragam kandang mereka untuk melawan tim tamu di semifinal, tetapi mengingatkan pada historis di mana jersey biru tua pernah dipakai saat mengusir Inggris di Piala Dunia 1986 melalui Hand of Got Maradona.

Piring hitam sejarah akan terus diputar oleh Argentina saat melawan Inggris.

Dan, Lionel Andrés (Leo) Messi terus menulis ulang sejarah sepak bola dengan cara yang sulit dipercaya dan mustahil dihentikan. Itulah si Kutu, dia pembeda selama mega bintang itu di atas rumput hijau.